Israel dan AS menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata dua minggu itu, yang bertujuan membuka jalan negosiasi untuk mengakhiri perang lima minggu antara AS-Israel melawan Iran.
Namun, Iran dan mediator Pakistan menyatakan Lebanon tercakup dalam kesepakatan tersebut, didukung pula oleh beberapa pemimpin internasional.
Beberapa jam sebelum peluang negosiasi terbuka, Netanyahu menegaskan Israel akan terus menyerang Hizbullah "dengan kekuatan, ketepatan, dan tekad".
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya 303 orang tewas dan lebih dari 1.000 luka-luka akibat serangan Israel pada Rabu. Serangan mematikan itu juga memicu Lebanon menetapkan Kamis sebagai hari berkabung nasional.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pihaknya sedang menjalani diplomasi yang mulai mendapat sambutan positif dari komunitas internasional.
Kabinet Lebanon menginstruksikan aparat keamanan untuk membatasi kepemilikan senjata di Beirut hanya pada lembaga negara, sebagai peringatan bagi Hizbullah.
"Angkatan bersenjata dan aparat keamanan diinstruksikan segera memperkuat penerapan penuh otoritas negara di Beirut dan memastikan monopoli senjata hanya di tangan otoritas resmi," kata Perdana Menteri Nawaf Salam usai rapat kabinet, dikutip AFP.
Presiden Aoun menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi ini dengan gencatan senjata.
"Saya telah katakan dan tegaskan lagi: saya tidak akan izinkan konflik internal, dan semua pihak harus percaya pada negara serta kekuatan sahnya, karena tak ada keselamatan tanpanya," ujar mantan panglima militer Lebanon tersebut.