ARGUMEN.ID - Kelompok bersenjata Hizbullah melepaskan serangan rudal ke pangkalan angkatan laut Israel di Ashdod pada Jumat (10/4).
Aksi balasan tersebut dilakukan dua hari setelah Israel melakukan serangan udara dahsyat di Beirut yang menewaskan lebih dari 300 jiwa.
Tak hanya itu, pada Jumat pagi, Israel kembali membombardir beberapa kota di Lebanon selatan yang diduga jadi wilayah utama basis Hizbullah.
"Sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata oleh pihak musuh serta serangan berulang ke Beirut, padahal Pejuang Perlawanan telah taat pada kesepakatan sementara musuh Israel tidak, maka para pejuang Perlawanan Islam menyerang pangkalan angkatan laut di pelabuhan Ashdod menggunakan rudal," ujar kelompok tersebut, dikutip dari AFP.
Sebelumnya, Hizbullah juga mengklaim telah membidik infrastruktur militer Israel di Haifa pada malam Kamis (9/4).
Sementara itu, Dilansir dari Reuters, militer Israel melaporkan serangan Hizbullah memicu sirene peringatan udara di berbagai wilayah pendudukan, termasuk Tel Aviv.
Berdasarkan The Times of Israel, rudal-rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Militer Israel menyatakan telah menghancurkan sekitar 10 peluncur roket milik Hizbullah yang dipakai untuk menyerang wilayah utara Israel pada malam hari.
Serangan balasan ini menyusul pemboman massal Israel di Lebanon pada Rabu, yang menewaskan lebih dari 300 orang.
Kemudian, dalam serangan terbaru pada malam Kamis dan pagi Jumat, dikutip Al Jazeera, roket serta jet tempur Israel menargetkan berbagai lokasi di kota-kota Lebanon selatan.
Menurut kantor berita Lebanon yang dimuat Al Jazeera, jet tempur Israel menghantam sejumlah sasaran di kota al-Majadel, distrik Tyre, Lebanon selatan.
Laporan dari jurnalis Al Jazeera di lapangan juga menyebut militer Israel meledakkan beberapa rumah di kota Haneen, Lebanon selatan.
Israel juga dikabarkan melakukan serangan udara sejak dini hari di kota Sarafand, Lebanon selatan.
Konflik balas-membalas ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran-sekutu Hizbullah di Lebanon.