Kesadaran Berpolitik dan Berliterasi Masyarakat di Kala Pandemi


Kesadaran Berpolitik dan Berliterasi Masyarakat di Kala Pandemi

“Kesadaran Berpolitik dan Berliterasi Masyarakat di Kala Pandemi”
Oleh: Amirul Wahid Ridlo Wicaksono Zain
Fakultas/ Prodi dan Perguruan Tinggi : Dakwah/ Pengembangan Masyarakat Islam, IAIN
Jember


Pemberitaan dan opini masyarakat di media cetak dan non cetak mengenai pandemi, kebijakan pemerintah, subsidi pemerintah, empati influencer adalah topik pembahasan yang hingga kini belum surut arus proyeksinya. 

Di tengah carut marut keadaan saat pandemi, masyarakat justru kian kritis dalam mengkritisi negara dan para pesohornya. Literasi kian dianggap sebagai alat ampuh dalam berdemokrasi. Sebuah fenomena politik dan literasi anyar dalam bayang-bayang kekangan wabah.

Politik dan literasi kini memang seringkali bersinggungan. Kesadaran berpolitik masyarakat yang meningkat adalah salah satu bentuk implikasi dari hadirnya budaya literasi yang akhir ini mulai digaungkan. 

Kesadaran berpolitik tersebut bersifat proporsional karena berkolaborasi dengan literasi, masyarakat dapat mengambil hak freedom of speech mereka. Dewasa kini, Masyarakat kian lihai dalam membangun argumentasi dengan landasan nalar kritis.

Virus Corona sejauh ini memang telah berhasil menciptakan drama perpolitikan dunia terutama di Asia Tenggara menjadi kacau balau. 

Seperti dilansir dari The Diplomat, meski pandemi tidak akan sampai meruntuhkan kekuasaan para pemimpin ASEAN di masing-masing negaranya, namun dampaknya terhadap dunia politik mereka masih sangat signifikan. 

Sederhananya ketika para pemimpin tersebut membuat blunder dengan menciptakan anomali dalam kebijakannya, maka masyarakat secara simultan dapat menyerang mereka melalui senjata literasi yang secara absolut akan berpengaruh terhadap elektabilitas mereka secara personal.

Anomali kebijakan yang dimaksud telah menggerogoti birokrasi kita. Telah banyak isu-isu sensitif berupa kebijakan pemerintah yang pelaksanaanya terkesan memaksa bahkan cenderung tidak logis. 
Menurut saya, telah terjadi penurunan standar prioritas tindakan solutif dan antisipatif terhadap beberapa permasalahan negeri yang dihadapi. 

Maklum, kabinet pemerintahan Jokowi kini memang diterpa badai hebat. Saat keadaan birokrat belum benar-benar pulih akibat pandemi, negara harus terlilit hutang besar kepada Dana Moneter Internasional (IMF) serta terancam akan mengalami resesi besar-besaran tahun ini.

Salah satu konflik yang sempat panas adalah saat diterornya seorang komedian sebab unggahan video singkatnya yang mengulas proses persidangan penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Beredarnya pemberitaan terkait komedian tersebut yang diduga telah menggunakan narkoba langsung direspon oleh masyarakat. 

Publik menampik isu tersebut dengan membuat semacam kampanye advokatif terhadap si komedian. Kampanye yang dilakukan adalah dengan meramaikan unggahan pembelaan di sosial media baik twitterinstagram, dan sebagainya.

Sikap publik di atas adalah termasuk dari pengembangan budaya literasi. Literasi kini telah dipahami terbagi menjadi dua sisi yakni literasi digital dan konvensional. Literasi digital merupakan segala bentuk buah pikir seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan baik di media sosial atau platform berita dan opini. 

Perkembanganya di Indonesia meningkat sejak pandemi. Hal ini berangkat dari getolnya masyarakat Indonesia saat berkomentar terhadap suatu ketimpangan di dunia nyata, dalam ranah apa saja termasuk politik. 

Situasi yang menunjukkan bahwa kepekaan masyarakat terhadap politik sudah mulai terbangun dan bagusnya lagi melalui pengembangan literasi.

Lumrah saja, publik memang sudah seharusnya dapat memfungsikan media sebagai ladang berdemokrasi yang sah. Terutama pada masa-masa sulit seperti sekarang, pemerintah tidak mungkin berjalan tanpa iringan masyarakat. 

Kebijakan yang diluncurkan berpotensi hambar bila publik secara aplikatif tidak mendukung. Dukungan publik tersebut mudah didapat jika pemerintah dapat mengkonsolidasikan ekspektasi dan kebutuhan publik secara masif dan literasi adalah jawaban ampuh masyarakat untuk bersuara. Saat pandemi, demonstrasi hanya akan mengundang datangnya virus.

Kebangkitan jiwa literasi publik merupakan titik terang peradaban literasi di bumi pertiwi. Jelasnya, kebangkitan ini juga menyangkut peningkatan minat baca dan menulis rakyat di masa pandemi ini. 

Padahal menurut Kemendikbud, data hasil survei PISA (The Program for International Student Assesment) menyatakan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di posisi 64 dari 65 negara. Perpustakaan Nasional RI juga telah menyebutkan pada 2017 bahwa presentase budaya literasi di negeri ini juga sangat minim yakni hanya kisaran 36,48% saja.  

Meningkatnya minat masyarakat dalam berliterasi disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang paling mendasar adalah kesenjangan aktivitas masyarakat di dalam rumah. 

Mereka tentu saja bosan jika harus terus menerus berada di rumah tanpa melakukan apapun. Untuk itu, membaca dan menulis bisa menjadi suatu hobi baru. Faktor selanjutnya adalah kemudahan membaca dan menulis itu sendiri. 

Kini, untuk mendapatkan informasi terbaru masyarakat tidak harus bersusah payah membeli koran atau mendengarkan siaran radio. Mereka dapat mengakses berita apa, kapan, dan dimana saja hanya lewat perantara gawai dalam genggaman. Suatu teknologi praktis yang sangat fungsional.

Sedangkan faktor yang terakhir adalah urgensi berdemokrasi. Ketika informasi yang diserap masyarakat beragam, maka wawasan dan perspektif publik juga akan berkembang. 

Mereka cenderung akan responsif dalam menyikapi suatu hal yang menurut mereka tidak sesuai dengan hukum normatif yang seharusnya. 

Meski asumsi yang muncul setelah itu akan bersifat sangat subjektif, namun setidaknya masyarakat turut berkontribusi terhadap kepentingan negara.

Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia harus cakap dalam mengambil hikmah dari suatu musibah. Seperti saat pandemi ini, naiknya aktivitas literasi masyarakat di atas merupakan suatu keniscayaan pada masa sulit yang harus dipertahankan. 

Seorang sosiolog muda Abi Priambudi, menerangkan bahwa budaya literasi yang mulai mengakar kini dapat menjadi titik terang untuk membangun sejarah baru literasi di negeri ini.

Tidak ada komentar untuk "Kesadaran Berpolitik dan Berliterasi Masyarakat di Kala Pandemi"