Fetish dalam Bingkai Seksiologi dan Fiqh Jinayah



Fetish dalam Bingkai Seksiologi dan  Fiqh Jinayah

oleh : Arvina Hafidzah
( Mahasiswi Program Studi Hukum Pidana Islam dan Ketua Umum Disceptatio )


Beberapa bulan  ini jagat maya telah dihebohkan oleh penangkapan seorang mantan mahasiswa dari suatu universitas ternama di Indonesia. 

Tidak hanya menyoreng nama keluarga dan almamater, tampaknya alasan dibalik penangkapannya merupakan suatu hal baru yang masih asing untuk dibicarakan. 

Berdasarkan keterangan korban yang dipaksa untuk membungkus dirinya sendiri dengan kain jarik dan kemudian diikat menyerupai bentuk jenazah, pelaku dituduh telah melakukan pelecehan seksual. Perilaku yang dilakukan oleh lelaki yang biasa disapa Gilang ini merupakan perbuatan yang biasa dilakukan oleh salah satu penganut fetishem

Karenanya sebenarnya apa sih fetish itu? Bagaimana seksiologi menanggapi kasus yang berkaitan dengan fetish? dan bagaimana perilaku fetish dalam bingkai hukum pidana islam? Mari kita bahas satu persatu.

Fetish menurut salah seorang psikolog Inez Kristianti M.Psi. yang dilansir di suara.com adalah rangsangan yang terjadi oleh fantasi maupun perilaku seksual yang melibatkan non living objects, seperti sepatu, celana dalam, bra, bagian tubuh non genital seperti kaki, rambut , dan lain sebagainya. 

Lalu apakah perilaku ini disebut menyimpang? Menurut pemaparan Zoya salah seorang Seksiolog yang dipublish dalam salah satu berita kompas.com menuturkan ” sebenarnya  fetish ini kan adalah perilaku seksual menyimpang menurut DSM (Diagnostic and Statical Manual) …”

Perilaku fetish kain jarik yang dilakukan oleh Gilang sendiri menurut Zoya sudah  berada di tingkat akut, sebab jika dilihat untuk yang mild maka masih membutuhkan adanya hubungan seksual. Di kasus Gilang ini sendiri, hanya dengan melihat korbannya yang terbungkus kain jarik sudah mendapatkan nafsu birahi yang tinggi dan bahkan bisa sampai melakukan masturbasi. 

Lebih lanjut, alasan dibalik munculnya perilaku fetish sebenarnya berasal dari berbagai faktor entah itu merupakan trauma seksual, stereotype masyarakat terhadap lelaki yang harus kuat pun bisa menjadi alasan munculnya fetish. faktor-faktor yang ada tentu membutuhkan proses yang tidak sebentar agar bisa berkembang hingga memiliki fetish.

Lalu apakah ini alasan dibalik penangkapan Gilang yang memiliki perilaku fetish? berdasarkan beberapa sumber, tidak ada hukum yang mengatur mengenai penyimpangan seksual berupa fetish. 

Zoya menjelaskan bahwa perilaku fetish bukanlah hal yang dapat dikategorikan melanggar hukum, “memiliki perilaku seksual menyimpang sekali pun, kalau dia tidak memaksakan kemauannya kepada orang lain kan sebenarnya enggak apa-apa. 

Yang menjadi problem kan adalah ketika dia maksa.” Ucapnya. Karenanya tidankan pidana yang dituduhkan kepada Gilang bukanlah mengenai fetishnya namun lebih kepada pemaksaan yang ia lakukan untuk mendapatkan fantasi seksualnya tersebut.

“banyak lho fetish yang tidak melakukan pelecehan seksual atau pemaksaan. Misalnya gini, perempuan dapat pacar yang shoe fetish. Dia suka banget kalau lihat pacarnya pakai wedges, terus dia bilang ‘kalau kamu pakai wedges aku lebih turn on deh’, itukan bukan bentuk pelecehan. 

Terus dibelikan pula wedges berwarna-wani” ujarnya memberikan contoh fetish yang tidak melanggar aturan. Dapat dimengerti, karena kedua belah pihak sama-sama setuju untuk memberikan fantasi seksual yang sama.

Mengenai kasus Gilang ini, salah seorang anggota DPR fraksi PDI Diah Pitaloka menyoroti kasus ini sebagai bentuk urgensi pengesahan RUU PKS yang saat ini masih dikeluarkan dari daftar Program Legasi Nasional (prolegnas) prioritas 2020. 

Salah satu alasan perdebatan yang ada adalah mengenai hasrat seksual yang dianggap tidak dapat masuk ke definisi kekerasan seksual. Menurutnya, di dalam kasus ini hasrat seksual sebagai perwujudan dari tindak pidana kekerasan seksual sudah cukup memberikan titik terang dalam perdebatan ini.

Setelah mengenal mengenai fetish dan bagaimana pandangan seksiologi serta hukum positif mengenai perilaku ini. Mari kita lanjut kepada pembahasan, bagaimana pandangan hukum islam mengenai hal ini.

Dalam skripsi yang ditulis oleh Insan Annur berjudul “Tinjauan Krimonologis dan Hukum Islam terhadap Devisiasi Seksual dalam Kejahatan Seksual” Islam sendiri menitik beratkan mengenai Hak Asasi Manusia yang di junjung tinggi di dalam keyakinannya. 

Hal ini terlihat dari salah satu contoh reaksi mengenai kaum Homoseksual, dimana pada zaman nabi terdahulu lebih mengacu pada kata “bunuhlah” sementara sejak zaman Rasulullah mulailah ada kata “maafkanlah” yang diambil sebagai langkah awal untuk mengubah orientasi seksual seseorang agar kembali kepada yang seharusnya.

Mengenai fetish sendiri, tidak ditemukan pembahasan signifikan di dalamnya. Lebih kepada penyimpangan seksual berupa sodomi, homoseksualitas, hingga lesbian. 

Namun, ada pembahasan yang dapat dikatakan mirip dengan perilaku fetish ini, sebab munculnya fantasi seksual pasti dibarengi dengan adanya perlakuan onani atau masturbasi. Maka dapat diambil kesimpulan sesuai dengan yang tertulis di dalam skripsi, hukumnya haram dan berdosa.

Kemudian untuk kasus Gilang dimana pelaku melakukan pemaksaan seksual atas perlakuan fetish nya maka dapat di samakan sebagai bentuk kejahatan seksual yang tentu diharamkan. 

Pelecehan seksual sendiri menjadi fokus utama pada relasi mengenai fetish akut dan perkosaan yang tentu secara keras dilarang dalam islam. Karenanya, pelaku dapat dihukumi Ta’zir, yakni mengikuti kebijakan pemerintah setempat.

Dari penjelasan diatas dapat kita ambil makna, bahwa fetish bukanlah suatu hal yang tabu untuk bicarakan, bahkan sudah menjadi hal lumrah dalam kehidupan beberapa orang. 

Munculnya kasus ini yang dianggap masih asing tentu akan membuat pelaku fetish merasa enggan dan takut membicarakan penyimpangan seksualnya kepada seorang seksiolog ataupun psikolog. 

Secara umum tidak ada hukum mengenai fetish baik di hukum positif maupun hukum islam, namun lebih kepada dampak yang ditimbulkan setelahnya. Pelecehan seksual, perkosaan, onani maupun masturbasi adalah sedikit dari beberapa dampak yang mungkin akan ditimbulkan oleh perilaku fetish ini. 

Karenanya, sebagai manusia yang menjunjung tinggi HAM maka jika fetish itu dapat dikontrol dan digunakan kepada pasangan sahnya tanpa ada pemaksaan ataupun penggunaan kekerasan di dalamnya, kita tidak bisa melarang bahkan mendiskriminasi fantasi seksual orang tersebut.

Tidak ada komentar untuk "Fetish dalam Bingkai Seksiologi dan Fiqh Jinayah"