Kita dan Layang-layang



Kita dan Layang-layang
Amirul Wahid RWZ *)

Perkembangan kecanggihan teknologi dewasa ini selain membawa bonafit yang potensial ternyata juga sekaligus membawa dampak buruk. Saat ini, permainan anak-anak usia dini sudah jauh dari istilah permainan tradisional. 

Mereka lebih akrab dan terbiasa menggunakan gawai untuk bermain atau bermain dengan teman dalam gawai. Dari 71 juta pengguna gawai di negeri ini, 75% di antaranya adalah pengguna gim online. Transformasi permainan anak-anak ini jelas berdampak buruk terhadap kelestarian permainan tradisional khas nusantara. 

Pengoperasian gawai anak di bawah umur yang berlebihan baik untuk mengakses media sosial dan bermain gim, secara tidak langsung telah menyita waktu berharga dunia anak-anak mereka. 

Kesan bermain bersama telah jauh berubah. Sementara, kisaran 10 hingga 15 tahun lalu, belum banyak anak-anak yang memiliki smartphone sehingga ketika mereka berkumpul permainan yang dimainkan masih cenderung bersifat tradisional dan langsung. 

Kini, semua itu berubah menjadi dunia virtual yang terkesan maya dan tidak nyata. 

Hal yang sangat disayangkan adalah orang tua zaman sekarang kurang pandai dalam mewariskan budaya negeri ini terhadap buah cinta mereka. Mereka kurang cermat untuk menyeleksi permainan yang baik untuk anak. 

Padahal, jika diulas lebih lanjut budaya permainan nusantara tidak kalah seru dibandingkan gim virtual dalam gawai. Akhirnya, antara anak-anak dan gawai seringkali terjadi ketergantungan yang sangat kuat. Mereka seakan tidak bisa hidup tanpa menggunakan gawai di genggaman. Kekhawatiran seperti inilah yang disebut sebagai NoMoPoPhobia (No Mobile Phone Phobia).

Budaya konsumtif terhadap gawai yang berlebihan ini sungguh berbanding terbalik dengan jumlah penggunaan gawai di negara asal atau produsen gawai tersebut. Di negara asalnya seperti China dan Jepang, masyarakat kedua negara tersebut sangat membatasi penggunaan media elektronik termasuk gawai dan internet untuk keperluan yang tidak terlalu signifikan. 

Mereka lebih cakap menggunakan media elektronik tersebut untuk keperluan yang lebih urgen seperti pengembangan ekonomi berbasis digital misalnya.

Meninjau kebobrokan yang dihasilkan oleh budaya konsumtif gawai yang terlalu tinggi, perlu kiranya ada regenerasi permainan tradisional yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya adalah permainan layang-layang. 

Regenerasi ini menjadi urgensi tersendiri setelah kita menilik fakta komparasi penggunaan gawai negeri ini dengan di negara asalnya. Seakan-akan kita memang direncanakan sebagai objek komersial mereka dan stuck pada tingkatan tersebut sementara mereka terus berkembang lebih pesat.

Layang-layang, layangan, atau wau (sebutan untuk beberapa daerah yang menggunakan bahasa melayu) adalah sepotong kertas tipis yang direkatkan kepada kerangka bambu tertentu lalu diterbangkan menggunakan media angin. 

Sejak dahulu, layang-layang merupakan permainan tradisional lintas usia yang dimainkan setiap hari bahkan dijadikan ajang perlombaan. Di beberapa daerah, layangan bahkan digunakan untuk ritual keagaaman khusus. Fungsi layangan yang beragam dan penting tersebut yang kemudian menjadikan eksistensi layang-layang menarik untuk dibahas.

Saking besarnya nilai layang-layang bagi masyarakat, seniman Indonesia hingga ada yang membuat esensi layang-layang tersebut dalam sebuah lagu anak-anak. 

Terdapat beberapa lagu yang membahas layang-layang seperti “Bermain layang-layang: Kelvin JS”, “Rare Angon: Mr. Botax”, dan masih banyak lagi. Tentunya lagu-lagu tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta anak-anak terhadap kesenian dan permainan budaya lokal. 

Sebuah catatan sejarah menyebutkan bahwa layangan bukanlah merupakan permainan endemik khas Indonesia. Ia merupakan sebuah media perang yang pertama kali digunakan di China pada saat kekuasaan dinasti Han (200 SM-200 M). 

Saat itu, pada kerangka layang-layang diberikan bambu yang apabila tertiup angin dapat menimbulkan bunyi-bunyian. Bunyi tersebut yang cukup membuat musuh ketar-ketir dan bersiap siaga.  

Meski demikian, di Indonesia ternyata juga ditemukan artefak layang-layang dengan bentuk dan tekstur berbeda dengan yang ditemukan di China. Bentuk layang-layang di nusantara saat itu sangat unik karena masih menggunakan dedaunan sebagai penghambat anginnya. 

Jadi, jika suatu saat ada klaim bahwasanya layang-layang ini bukanlah permainan asli Indonesia, kita bisa berdalih dengan alasan sebenarnya tidak ada yang meniru budaya mereka karena bentuk layangan yang berbeda. Bisa saja, leluhur kita menciptakan layang-layang atas ide sendiri meski waktunya di bawah usia layang-layang dari negeri tirai bambu itu.  

Pembahasan mengenai layang-layang tidak cukup sampai di sini. Layang-layang juga mengandung sisi sosial kemasyarakatan. Permainan layang-layang di berbagai daerah tidak mungkin jika hanya dilakukan sendiri, hal ini pasti dilakukan beramai- ramai. 

Tak pelak ketika bermain apalagi saat layangan diadu, keseruan dan kebersamaan yang tercipta akan mengalir sehangat mungkin mempererat persaudaraan. Mereka kemudian akan berbicara mengenai teknik mengadu, cerita pengalaman, dan hal seru lainya.  

Hemat penulis, keseruan bermain layang-layang serta model permainan lokal tradisional lain tidak akan habis diceritakan dalam satu karya opini. Secara absolut, di setiap permainanya pasti terdapat unsur nasionalis dan sosial yang kuat.

Lantas, jika kita telah tau betapa uniknya permainan-permainan budaya ini, mengapa kita masih bermain permainan orang asing? Bukanya kita seharusnya bangga dengan permainan sendiri yang bahkan lebih apik?

Demikian, sebagai generasi muda yang kritis dan berkeadaban, kita seyogyanya cerdik dalam menyaring budaya-budaya asing. Pemuda saat ini jangan lengah dengan derasnya budaya luar yang pesat sehingga kita bisa kehilangan budaya lokal. 

Tanpa sadar, budaya tersebut sudah merambat hingga ranah paling kecil kehidupan kita seperti dunia permainan. Jadi, mari cintai dan mainkan permainan tradisional yang sudah hampir punah ini! 

(* Mahasiswa Program Studi PMI IAIN Jember dan Peneliti di IMC IAIN Jember; 
Instagram: @whdamirul)




Tidak ada komentar untuk "Kita dan Layang-layang"