Manuver Politik Jokowi-Prabowo, dari Saling Serang hingga Saling Bela, Jangan Baper!



Oleh: Rayhan “Fasya” Firdausi
(Instagram : @rayhanfasya23)


Mungkin, bergabungnya Prabowo Subianto ke kabinet pemerintahan Jokowi-Maruf akan menjadi catatan sejarah dan rekor baru di dunia perpolitikan Indonesia dimana ada rival Pilpres yang bergabung menjadi bagian dari pemerintahan lawan politiknya. 

Inikah manuver politik Prabowo agar Gerindra mendapatkan posisi strategis di pemerintahan nantinya? 

Seperti yang kitaketahui, Jokowi meminta Prabowo untuk membantunya di bidang pertahanan pada kabinet Indonesia Maju. Dikutip dari Kompas, Jokowi ingin koalisi gotong royong. 

Indonesia merupakan negara demokrasi gotong royong, tidak ada oposisi. Sehingga, tidak masalah rivalnya masuk kabinet, selama untuk kebaikan bangsa dan negara. Tindakan Jokowi ini mengecewakan banyak pihak terutama pegiat dan keluarga korban pelanggaran HAM, bahkan Jokowi dianggap menelan ludahnya sendiri oleh Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) M Isnur. 

Hal ini terjadi karena saat Pilpres banyak menggunakan isu-isu HAM untuk menjadi alat kampanye menyerang Prabowo. 1 Media asing pun menulis pengangkatan Prabowo sebagai Menteri Pertahananan sebagai “Hari Gelap HAM”. 

Jokowi juga ditinggalkan relawan Projo pasca mengangkat Prabowo sebagai Menhan. 

Penulis yakin bahwa Prabowo pasti punya hitung-hitungan politik yang cermat dalam memutuskan suatu hal. Bergabungnya Prabowo ke lingkaran Jokowipun sempat menimbulkan spekulasi baru, yaitu Prabowo akan berpasangan dengan Puan pada Pilpres 2024. 

Mengutip pernyataan Aria Bima di merdeka.com bahwa PDIP sebagai partai pemenang dan Gerindra
sebagai runner up, hitung-hitungan politik sangat memungkinkan untuk memasangkan Prabowo- Puan. 

Survei yang dilakukan Center for Political Communication Studies (CPCS) menyebutkan pasangan Prabowo-Puan unggul dengan elektabilitas 32,1%, disusul Anies-Sandi dengan angka 29,8%.  
Namun demikian, situasi dapat berubah mengingat politik adalah barang yang sangat mudah berubah.

Jujur, penulis tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Kalau kita flashback ke Pilpres 2009, Gerindra dan PDIP sudah pernah berpasangan dengan mencalonkan Megawati- Prabowo. Saat itu, PDIP sama sekali tidak mengangkat isu HAM. 

Prabowo jugalah yang membawa Jokowi ke Jakarta untuk bersaing dalam Pilkada DKI 2012 berpasangan dengan Ahok dari Gerindra. 

Namun, ketika PDIP mencalonkan Jokowi sebagai capres untuk Pilpres 2014, Prabowo sempat kecewa karena pada dasarnya PDIP melanggar perjanjian Batu Tulis yang salah satu poinnya adalah mendukung Prabowo sebagai capres 2014. 

Prabowo pun mencalonkan diri sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa dengan koalisi Gerindra, PAN, PKS, Golkar, PPP, dan PBB. Coba dilihat, beberapa partai politik di koalisi tersebut menyeberang ke kubu lawan pada Pilpres 2019, tentu dengan hitung-hitungan politik mereka! 

Pada akhirnya, Prabowo juga bergabung ke pemerintahan! Ini membuktikan bahwa politik sangat dinamis dan manuver sangat mungkin terjadi. 

Kita coba melihat kembali bagaimana kubu-kubu ini saling serang saat Pilpres. Kubu Prabowo seringkali menyerang Jokowi dengan isu hutang pemerintah dan pembangunan infrastruktur, sedangkan kubu Jokowi sering menyerang Prabowo dengan isu masa lalu Prabowo yang dikaitkan dengan pelanggaran HAM era 1997-1998. 

Tak jarang, isu-isu tersebut menyerempet ke isu SARA, agama, dan politik identitas. Belum lagi dengan model penyerangannya. Serangan dilakukan dengan sangat sadis oleh tim pemenangan dan buzzer serta simpatisan-simpatisannya. Maka tak heran, banyak pihak yang kaget mendegar Prabowo
bergabung ke pemerintahan mengingat pada masa Pilpres kedua kubu bermusuhan dengan sengit.

Sekali lagi, ini membuktikan bahwa politik sangat dinamis, manuver sangat mungkin terjadi, yang tadinya teman bisa jadi lawan, yang tadinya musuh sengit bisa jadi kawan setia.

Politik mengubah segalanya, Jokowi dan Prabowo yang dulunya saling serang, saat ini mereka terlihat saling membela. Berawal dari ucapan selamat bekerja dari Prabowo untuk Jokowi setelah pertemuannya di MRT, mereka jadi saling support seperti kawan setia.

Jokowi pernah membela Prabowo saat Menteri Pertahanan itu dikritik karena terlalu sering berkunjung ke luar negeri.

Beliau dikritik karena kunjungan tersebut tidak sesuai arahan Jokowi dalam pidato tahunannya 16 Agustus 2019 Dikutip dari Tempo.co, Jokowi membela dengan mengatakan bahwa orang-orang yang protes itu tidak mengerti diplomasi pertahanan. Jokowi menambahkan bahwa Prabowo itu tidak jalan-jalan, tetapi sedang bernegosiasi untuk jual beli senjata.

Di era COVID-19 ini, Prabowo membela Jokowi dengan memberikan kesaksian bahwa Jokowi terus berjuang demi kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. Prabowo melihat dari dekat cara cara pengambilan keputusan beliau, dan selalu yang menjadi dasar pemikiran beliau adalah keselamatan rakyat yang paling miskin dan rakyat yang paling lemah.

Adakah yang mereka lakukan ini bertujuan untuk mendapatkan posisi politik yang lebih strategis di 2024?
Kita belum tahu. Tetapi, dalam politik, yang pasti adalah ketidak pastian itu sendiri. Hari ini mereka berdebat di televisi, besoknya mereka bersalaman di televisi juga.

Waktu pilpres, mereka saling serang dengan berbagai isu, sekarang, mereka saling membela.

Sekali lagi, ini membuktikan bahwa politik adalah barang yang sangat dinamis. Manuver politik sangat mungkin terjadi agar nantinya mereka mendapat posisi yang strategis. Kita rakyat jelata jangan terlalu fanatik dengan mereka, bisa-bisa kecewa nantinya kalau ekspetasi kita terpenuhi. Jangan baper, bos!

Tidak ada komentar untuk "Manuver Politik Jokowi-Prabowo, dari Saling Serang hingga Saling Bela, Jangan Baper!"