Krisis Multidimensi: Menakar Konsep Kepemimpinan Presiden yang Lemah ?


Oleh: Adjie
(Instagram : @aadjie_ )

Mengawali judul pada tulisan ini, mari kita setidaknya berangkat dari situasi dan kondisi saat ini dimana Covid-19 masih menjadi perbincangan utama di sela-sela kehidupan rakyat Indonesia guys. 

Sebagian orang bahkan mengamali drop mentality, akibat himpitan sana-sini yang tak kunjung mereda. 

Rakyat arus bawah lagi-lagi terkena imbas yang nyata dari berbagai sisi, terutama tentu soal urusan kebutuhan pangan. Kalo dipikir-pikir, wabah Covid-19 ini memang bener-bener ganas dampaknya guys, apalagi negara kita gan itungannya masih katergori bekembang? Jadi tak heran jika kita masih suka gigit jari, bahkan planga-plongo cari bantuan kiri kanan demi survive. 

Udah harga mati buat kita sih untuk nanggung nasib dan beban hidup masing-masing, jadi jangan ngarep banyak sama orang lain deh, karena mereka juga pusing kan ngurus hidupnya sama keluarganya?

Kembali ke Indonesia, sebenarnya kita ini punya wakil rakyat yang duduk di atas sana, maksudnya ya wakil rakyat yang meliputi Presiden (include Stafsus Millenial), Menteri, Wakil Presiden, Wakil Menteri, dan segenap jajaran di bawahnya. 

Mereka dengan segenap kompetensinya, bisa dibilang punya segala daya untuk “make a policy” bahkan “give a solution”. 

Mereka ini orang-orang yang berdaya guys, jadi gak pusing-pusing amat sebenenrya kalo cuma ngurus urusan privat (keluarga sendiri). Lalu di sisi lain, ada juga urusan publik yang udah jadi tugas etis bagi jajaran pemerintah kita. Gampangnya, urusan publik itu ya termasuk urusan pada ranah kita ini sebagai masyarakat biasa. 

Sadar atau ga sadar, faktanya separuh nafas dan hidup kita ini memang diatur pemerintah. 

Jadi sesekali kita sih wajib mikir tentang “apa yang sudah negara berikan pada kita?” apalagi di masa krisis kaya gini, toh kita juga taat bayar pajak kan? jadi gapapa juga kalo kita nagih feedbacknya.

Kembali ke soal Covid-19, kadang merasa geli juga dengan seabrek statement pemerintah beberapa bulan lalu, yang memang terkesan lucu. 

Salah satunya datang dari Pak Menteri Luhut Panjaitan, jadi waktu dia ditanya wartawan tentang tanggapan terhadap isu corona yang telah menjalar di negara-negara lain, respon dia pun bernada humor “apa itu corona? Mobil?”. 

Jika dilogika, sebenarnya statement seperti ini bagi orang sekelas menteri sih benar-benar sangat disayangkan. 

Apa memang Pak Luhut tak punya Konsep dalam merumuskan masalah? Duh, miris sekali jika memang seperti itu adanya. Di saat negara- negara lain yang sudah maju saja telah menetapkan langkah antisipasi, eh di negara kita masih sibuk dengan kelakar dan wacana-wacana nyentrik!. 

Duhai Pak Jokowi, sebenarnya negara kita ini sedang proses berkembang atau malah berkempis? Bahkan membengkak!.

Problematika utama nya adalah pemerintah kurang sigap dan terkesan meremehkan sejak awal, sehingga jalur masuk datangnya virus Covid-19 pun tidak dicegah sesegera mungkin. 

Padahal beberapa negara telah memberi contoh lockdown aktivitas penerbangan yang datang dari Tiongkok, karena disinyalir sumber utama datangnya virus tersebut adalah daari negeri tirai bambu tersebut. 

Coba jika dibandingkan dengan negara kita ini, dimana populasi penduduk China semakin membludak dari waktu ke waktu, bahkan yang illegal pun juga ada. 

Entah bagaimana caranya mereka datang kesini, serta begitu mudahnya menempati sektor-sektor lapangan kerja yang sebenarnya mampu untuk diisi oleh orang-orang pribumi sendiri. 

Maka tak heran jiwa warga kita banyak yang rela mengadu nasib di negeri orang, hingga dijuluki sebagai pahlawan devisa karena nyawa taruhannya!. Coba tengok kasus terbaru tentang ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal milik tiongkok, yang faktanya dieksploitasi secara tidak manusiawi, hingga meninggal dan dibuang jasadnya ke lautan.

Miris!

Kadang kita jadi ragu, tentang bagaimana konsep Presiden dalam memegang kendali negara ini?. Mengingat begitu mahalnya biaya bagi langkah operasional seorang presiden, maka sudah sepatutnya kita pun turut berharap bahwa ide dan gagasannya muncul ke permukaan!. 

Sekali presiden kunjungan atau melangkah ke suatu tempat (termasuk blusukan), maka ada macam-macam pembiayaan juga yang dikeluarkan guys seperti biaya dokter kepresidenan, biaya paspampres, biaya intel, segala macem. 

Jadi seharusnya fasilitas yang istimewa tersebut harus dibarengi dengan kualitas teruji, bukan hanya obral janji atau sekedar kalimat motivasi!. 

Masyarakat Indonesia itu butuh kepastian, tentang bagaimana konsep dan mekanisme untuk memimpin dalam rangka menghadapi krisis yang terjadi, sehingga kebijakannya dapat membawa dampak menyejukkan.

Bayangkan saja sudah berapa banyak kita kecolongan korban jiwa di tengah pandemi Covid-19 ini, bahkan ada salah satu pemberitaan viral tentang warga di Serang yang meninggal akibat kelaparan dan hanya minum air galon!. 

Terlepas dari takdir, riwayat penyakit, atau kondisi apapun yang menimpa, tetap saja dalam hal ini kita patut menyorot kinerja pemerintah. 

Bahkan sudah puluhan tahun kita merdeka, namun realita di lapangan tak seindah kata-kata. Jadi, esensi kemerdekaan yang dimaksud itu seperti apa? 

Apa hanya cukup dimaknai dengan prosesi sakral upacara bendera, serta memperingati dan mengenang perjuangan para pahlawan dengan berbagai perlombaan simbolis ketika hari 17 Agustus tiba?

Sudah kadung jauh panggang dari api, Indonesia butuh gizi bukan prosesi. Yuk gigit jari?

Tidak ada komentar untuk "Krisis Multidimensi: Menakar Konsep Kepemimpinan Presiden yang Lemah ?"