KPK Harus Buktikan Tidak Takut PDIP


Masih belum selesai setelah penetapan 4 tersangka dari 8 orang yang di ciduk beberapa hari kemarin, kasus suap untuk mendapatkan kursi sebagai anggota DPR RI berlanjut panjang lantaran adanya sederet pihak yang terlibat dalam kasus kali ini. Dalam masalah terbaru diketahui kalau Sekretaris Jenderal PDIP Perjuangan bernama Hasto Kristiyanto juga ikutan terseret atas kasus suap tersebut.
Dalam kasus dugaan tersebut, Hasto terlibat dalam usaha untuk melakukan suap yang dilakukan oleh orang kepercayaan Saeful Bahri terhadap Wahyu Setiawan yang mana kini telah ditetapkan sebagai tersangka, dan telah mengatakan kalau dirinya dalam waktu dekat ini akan mundur dari jabatannya sebagai anggota KPU.

Perlu diketahui bahwasanya Saeful Bahri telah melakukan penyuapan terhadap Wahyu Setiawan terkait pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI dari fraksi PDIP. Dan beberapa pekan terakhir ini telah terungkap permintaan penggagalan Riezky Aprilias sebagai pengganti almarhum Nazarudin Kiemas, dimana ini telah diajukan secara resmi oleh Hasto berdasarkan surat yang tercantumkan atas nama partai yang dianutnya.

Sebelumnya, beberapa waktu sebelum terjadinya OTT sempat terdengar berita burung kalau Hasto telah dikejar oleh pihak KPK. Dan ia dikabarkan sempat berlindung ke kampus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Bukan cuman itu saja, bahkan pihak KPK telah menyebutkan kalau saat tim-nya hendak melakukan penggeledehan terhadap ruangan Hasto yang berada di kantor PDIP, mereka sempat dihadang oleh pihak keamanan setempat. Walaupun ini menjadi hal wajar, namun tetap saja dianggap sebagai salah satu bentuk kejanggalan lantaran seolah menghalangi pihak berwenang melakukan tugasnya.

Terkait masalah ini, Suparji Ahmad selaku pengamat Hukum Universitas Al Azhar Indonesia telah meminta terhadap pihak KPK tidak takut ataupun gentar untuk mengusut tuntas kasus yang terjadi kali ini. Ia berpendapat kalau potensi suap dalam proses penetapan anggota legislatif dan eksekutif seperti ini sangatlah besar.

“Buktikan kepada publik bahwa tidak gentar mengungkap fakta yang sebenarnya meski melibatkan partai pemenang pemilu dan saat ini sedang berkuasa,” seperti itulah yang dikatakan oleh Suparji kepada Kantor Berita Politik RMOL.

Tidak hanya Suparji Ahmad saja, melainkan sederet Guru Besar Hukum Universitas Al Azhar Indonesia juga telah meminta masyarakat untuk terus dan selalu mengawasi kinerja KPK dalam mengusut kasus ini. Dikarenakan kalau permasalahan seperti itu tidak segera diurus dengan baik, benar, dan cepat, maka akan merembet ke permasalahan lain, dan kasus suap meremek ke berbagai macam bagian. Sehingga jabatan akan remuk karena adanya kasus suap yang jelas saja tidak adil dan benar.

Terlebih dalam kasus ini menjadikan partai PDIP yang menjadi sasarannya, dimana untuk partai politik tersebut untuk sekarang ini dikenal sebagai salah satu penguasa yang ada di Indonesia. Bukan saja besar dari sejarahnya saja, melainkan memang keanggotaannya yang cukup besar sekarang ini menjadikannya sebagai penyokong yang kuat dalam pemilihan umum.

Dalam keterangan penutupnya, Suparji memberikan semangat terhadap pihak KPK dalam mengungkap kasus suap semacam ini. Ia meminta KPK untuk terus bergerak maju dalam membongkar kejahatan demokrasi yang terjadi di Indonesia. Dengan harapan kedepannya bisa terpilih orang-orang yang bersih dalam badan legislatif ataupun eksekutif. Bukan cuman itu saja, dalam setiap operasi yang dilakukan oleh pihak KPK juga tidak luput dari pengawasan publik, karena badan ini juga tidak menutup kemungkinan ada penyusupnya.

Tidak ada komentar untuk "KPK Harus Buktikan Tidak Takut PDIP"