KPK Diminta Kejelasan Peran Megawati dan Hasto dalam Kasus Wahyu Setiawan



Kasus Wahyu Setiawan dalam kasus penyuapan untuk mendapatkan kursi sebagai anggota DPR RI periode 2019 – 2024 telah berbuntut panjang dan menyeret beberapa nama lainnya. Terutama para petinggi PDI-P juga telah ikut serta dalam permasalahan ini. Dimana Ibu Megawati diduga oleh beberapa kalangan kalau beliau terlibat dalam kasus ini, begitu juga dengan Hasto.

Ujang Komarudin yang merupakan Akademisi Universitas Al Azhar, Jakarta telah mengungkap kalau memang adanya peran yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan Hasto Kristiyanto dalam kasus pergantian antar waktu (PAW), maka pihak KPK harus mengungkap hal tersebut secara jelas dan gamblang. Ini bertujuan untuk memberikan kejelasan terhadap masyarakat luas, tanpa adanya penutupan hal kecil dari pihak pemerintahan atas kasus Partai Politik kali ini.

“Jika memang ada dugaan keduanya, tentu KPK harus berani mengusut tuntas. Agar semuanya jelas dan gamblang. Dibutuhkan keberanian tingkat dewa bagi KPK untuk bisa mengungkap apakah ada peran atau tidak pada keduanya,” seperti itulah yang diungkap oleh Ujang selaku pengamat politik juga terhadap para Wartawan di Jakarta kemarin Malam.

Sebelum ini, beberapa waktu lalu Pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) juga sempat membongkar terkait peran Ibu Megawati Soekarnoputri dan Hasto Kristiyanto untuk menggantikan paman Puan Maharani dengan Harun Masiku tersebut. Jika memang ini sampai benar kejadiannya, jelas akan menjadi lebih besar permasalahannya.

Ia menjelaskan kalau aksi KPK dalam melakukan OTT terhadap komisioner KPU Wahyu Setiawan terus menjadi perbincangan. Dimana yang menarik dari kasus tersebut yakni juga ikut menyeret petinggi PDI Perjuangan atau biasa dikenal dengan PDIP. Dimana untuk salah satu partai besar di Indonesia ini sekarang telah dipimpin oleh Megawati bersama Hasto Kristiyanto.

Dan pada Selasa, 14 Januari 2020 kemarin malam telah diulas dalam ILC TV One, dimana menyebut kalau KPK tidak mampu untuk melawan partai besar seperti PDIP. Dalam acara tersebut, diusung tema “KPK Masih Bertaji?”, dimana ini jelas menyindir keras pihak pemberantasan Korupsi tersebut dalam mengatasi lembaga besar seperti PDIP.

Pada acara tersebut, telah mengundang banyak tokoh dimana salah satunya yakni Zainal Arifin yang merupakan pakar hukum tata negara dari Universitas Gajah Mada (UGM). Ia bahkan dengan tegas membongkar peran Megawati dan Hasto atas Harun Masiku kali ini. Dimana untuk melakukan ini semua, Harun Masiku sampai rela mengeluarkan dana sebesar Rp 900 juta, agar semua berjalan mulus. Namun ternyata tercium oleh pemerintah sehingga terjadi pencekalan atas kasus tersebut.

Dalam kasus tersebut anggota Komisioner KPU, Wahyu Setiawan diduga telah menerima uang suap dari kejadian ini sebesar Rp 600 juta. Dimana untuk penyuapan ini bertujuan untuk mengganti posisi Riezky Aprilia dimana ia juga telah menjadi anggota DPR RI terpilih dari PDIP untuk menggantikan Almarhum Nazaruddin Kiemas yang merupakan adik almarhum Taufiq Kiemas, dimana ia merupakan ipar dari Megawati Soekarnoputri.

Disamping itu, Lili Pintauli Siregar selaku Wakil Ketua KPK telah mengungkap kalau penerimaan uang suap kali ini telah dilakukan dalam 2 tahap, dimana pertama dilakukan pada pertengahan bulan Desember 2019, dimana pada saat itu terjadi transaksi sebesar Rp 400 juta yang ditujukan pada WSE (Wahyu) melalui ATF (mantan anggota Bawaslu), DON (Doni), dan SAE (Saeful). Sedangkan tahap kedua terjadi pada akhir Desember 2019 lalu, dengan pelaku yang sama juga.